Senin, 08 Mei 2017

Cerita Seks Nikmatnya Digilir Para Lelaki

Cerita Seks Nikmatnya Digilir Para Lelaki
Cerita Seks Nikmatnya Digilir Para Lelaki

Cerita Seks - Perjalanan Bisnis ke Surabaya sebenarnya sungguh menyenangkan, karena akan ketemu dengan sahabat lama yang sudah lama kutinggalkan, sayangnya suamiku Hendra tak bisa menemaniku karena kesibukannya. Dengan ditemani Aan, salah seorang kepercayaanku, kami terbang dengan flight sore supaya bisa istirahat dan besok bisa meeting dalam keadaan fresh dan tak loyo karena harus bangun pagi pagi buta, mengingat meeting besok aku perkirakan akan berlangsung cukup alot karena menyangkut negosiasi dan kontrak, disamping itu meeting dengan Pak Putu, calon clien, jadwalnya jam 10:00 pagi. Di sanalah awalh Cerita Seks nikmatnya digilir para lelaki ini terjadi

Pukul 19:00 kami check in di Sheraton Hotel, setelah menyelesaikan administrasinya kami langsung masuk ke kamar masing masing untuk istirahat. Kurendam badanku di bathtub dengan air hangat untuk melepas rasa penat setelah seharian meeting di kantor menyiapkan bahan meeting untuk besok. Cukup lama aku di kamar mAan hingga kudengar HP ku berbunyi, tapi tak kuperhatikan, paling juga suamiku yang lagi kesepian di rumah, pikirku.

Setelah puas merendam diri, kukeringkan badanku dengan handuk menuju ke kamar. Kukenakan pakaian santai, celana jeans straight dan kaos ketat full press body tanpa lengan hingga lekuk badanku tercetak jelas, kupandangi penampilanku di kaca, dadaku kelihatan padat dan menantang, cukup attraktif, di umurku yang 32 tahun pasti orang akan mengira aku masih berumur sekitar 27 tahun.

Kutelepon ke rumah dan HP suamiku, tapi keduanya tak ada yang jawab, lalu kuhubungi kamar Aan yang nginap tepat di sebelah, idem ditto. Aku teringat miss call di HP-ku, ternyata si Ian, gigolo langgananku di Jakarta, kuhubungi dia.

“hallo sayang, tadi telepon ya” sapaku

“mbak Linda, ketemu yok, aku udah kangen nih, kita pesta yok, ntar aku yang nyiapin pesertanya, pasti oke deh mbak” suara dari ujung merajuk

“pesta apaan?”

“pesta asik deh, dijamin puas, Mbak Cuma sediakan tempatnya saja, lainnya serahkan ke Ian, pasti beres, aku jamin mbak” bujuknya

“emang berapa orang” tanyaku penasaran

“rencanaku sih aku dengan dua temanku, lainnya terserah mbak, jaminan kepuasannya Ian deh mbak”

“asik juga sih, sayang aku lagi di Surabaya nih, bagaimana kalo sekembalinya aku nanti”

“wah sayang juga sih mbak, aku lagi kangen sekarang nih”

“simpan saja dulu ya sayang, ntar pasti aku kabari sekembaliku nanti”

“baiklah mbak, jangan lupa ya”

“aku nggak akan lupa kok sayang, eh kamu punya teman di Surabaya nggak?” tanyaku ketika tiba tiba kurasakan gairahku naik mendengar rencana pestanya Ian.

“Nah kan bikin pesta di Surabaya” ada nada kecewa di suaranya

“gimana punya nggak, aku perlu malam ini saja”

“ada sih, biar dia hubungi Mbak nanti, nginapnya dimana sih?”

“kamu tahu kan seleraku, jangan asal ngasih ntar aku kecewa”

“garansi deh mbak”

Kumatikan HP setelah memberitahukan hotel dan kamarku, lalu aku ke lobby sendirian, masih sore, pikirku setelah melihat jam tanganku masih pukul 21:00 tapi cukup telat untuk makan malam. Cukup banyak tamu yang makan malam, kuambil meja agak pojok menghadap ke pintu sehingga aku bisa mengamati tamu yang masuk. Ketika menunggu pesanan makanan aku melihat Pak Putu sedang makan bersama seorang temannya, maka kuhampiri dan kusapa dia.

“malam Bapak, apa kabar?” sapaku sambil menyalami dia

“eh Mbak Linda, kapan datang, kenalin ini Pak Budi buyer kita yang akan meng-export barang kita ke Cina” sambut Pak Putu, aku menyalami Pak Budi dengan hangat.

“silahkan duduk, gabung saja dengan kami, biar lebih rame, siapa tahu kita tak perlu lagi meeting besok” kelakar Pak Budi dengan ramah.

“terima kasih Pak, wah kebetulan kita bertemu di sini, kan aku nginap di hotel ini” jawabku lalu duduk bergabung dengan mereka.

Kami pun bercakap ringan sambil makan malam, hingga aku tahu kalau Pak Budi dan Pak Putu ternyata sahabat lama yang selalu berbagi dalam suka dan duka, meskipun kelihatannya Pak Putu lebih tua, menurut taksiranku sekitar 45 tahun, sementara Pak Budi, seorang chinesse, mungkin umurnya tak lebih dari 40 tahun, maximum 37 tahun perkiraanku. Setelah selesai makan malam, aku pesan red wine kesukaanku, sementara mereka memesan minuman lain yang aku tak terlalu perhatikan.

“Bagaimana dengan besok, everything is oke?” Tanya Pak Putu

“Untuk Bapak aku siapkan yang spesial, kalau tahu bapak ada disini pasti kubawa proposalku tadi” kelakarku sambil tersenyum melirik Pak Budi, si cina ganteng itu.

Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 22:30, cukup lama juga kita ngobrol dan entah sudah berapa gelas red wine yang sudah meluncur membasahi tenggorokanku hingga kepalaku agak berat, tak pernah aku minum wine sebanyak ini, pengaruh alcohol sepertinya sudah menyerangku. Tamu sudah tak banyak lagi disekitar kami. Kupanggil waitres untuk menyelesaikan pembayaran yang di charge ke kamarku.

Kamipun beranjak hendak pulang ketika tiba tiba kepalaku terasa berat dan badanku terhuyung ke Pak Budi, Pak Putu sudah duluan pergi ketika Pak Budi memeluk dan membimbingku ke lift menuju kamar, aku sendiri sudah diantara sadar dan tak, ketika Pak Budi mengambil tas tanganku dan mengambil kunci kamar lalu membukanya.
dengan hati hati Pak Budi merebahkan badanku di ranjang, dilepasnya sepatu hak tinggiku dan perlahan membetulkan posisi badanku, aku sudah tak ingat selanjutnya.

Kesadaranku tiba tiba timbul ketika kurasakan dadaku sesak dan ada kegelian bercampur nikmat di antara putingku, kubuka mataku dengan berat dan ternyata Pak Budi sedang menindih badanku sambil mengulumi kedua putingku secara bergantian, badanku sudah telanjang, entah kapan dia melepasnya begitu juga Pak Budi yang hanya memakai celana dalam.
Bukannya berontak setelah kesadaranku timbul tapi malah mendesah kenikmatan, kuremas rambut kepala Pak Budi yang masih bermain di kedua buah dadaku. Tangannya mulai mempermainkan selangkanganku, entah kapan dia mulai menjamah badanku tapi kurasakan kemaluanku sudah basah, aku Cuma mendesah desah dalam kenikmatan.

“sshh.. eehh.. eegghh” desahku membuat Pak Budi makin bergairah, dia kemudian mencium bibirku dan kubalas dengan penuh gairah. Kuraba selangkangannya dan kudapati tonjolan mengeras di balik celananya, cukup besar pikirku. Sambil berciuman, kubuka celana dalamnya. Dia menghentikan ciumannya untuk melepas hingga telanjang, ternyata kemaluannya yang tegang tak sedasyat yang aku bayangkan, meski diameternya besar tapi tak terlalu panjang, paling sepanjang genggamanku, dan lagi belum disunat, ada rasa sedikit kecewa di hatiku, tapi tak kutunjukkan.

Dia kembali menindih badanku, diciuminya leherku sambil mempermainkan lidahnya sepanjang leher dan pundakku, lalu turun dan berputar putar di buah dadaku, putingku tak lepas dari jilatannya yang ganas, jilatannya lalu beralih ke perut terus ke paha dan mempermainkan lututku, ternyata jilatan di lutut yang tak pernah kualami menimbulkan kenikmatan tersendiri. Daerah selangkangan adalah terminal terakhir dari lidahnya, dia mempermainkan klitoris dan bibir kemaluanku sambil jari tangannya mulai mengocok kemaluanku.

“sshh.. eegghh.. eehhmm.. ya Pak..truss Pak” desahku merasakan kenikmatan dari jilatan dan kocokan jari Pak Budi.

Pak Budi kembali ke atasku, kakinya dikangkangkan di dadaku sambil menyodorkan kemaluannya, biasanya aku tak mau mengulum kemaluan pada kesempatan pertama, tapi kali ini entah karena masih terrpengaruh alcohol atau karena aku terlalu terangsang, maka kuterima saja kemaluannya di mulutku. Kupermainkan ujung kepalanya dengan lidah lalu turun ke batang kemaluan, kemudian tak lupa kantung bolanya dan terakhir kumasukkan kemaluan itu ke dalam mulutku, cukup kesulitan juga aku mengulum kemaluannya karena batang itu memang besar.

Dia mengocok mulutku dengan kemaluannya selama beberapa saat, cukup kewalahan juga aku menghadapi kocokannya untung, tak berlangsung lama. Pak Budi kembali berada diantara kakiku, disapukannya kemaluannya ke bibir kemaluanku lalu mendorong tanpa kesulitan berarti hingga melesaklah kemaluan itu ke kemaluanku semua, aku merasa masih banyak ruang kosong di bagian dalam kemaluanku meski di bagian luarnya terasa penuh oleh besarnya batang kemaluan Pak Budi.

“ehh.. sshh.. eeghghgh” aku mulai mendesah ketika Pak Budi mulai mengocokkan kemaluannya, dengan cepat dia mengocokku seperti piston pada mesin mobil yang tancap gas, ada perbedaan rasa atas kocokan pada kemaluan yang tak disunat itu, gesekan pada dinding kemaluanku kurang greger, tapi tak mengurangi kenikmatan malahan menambah pengalaman, tanpa ampun pantatnya turun naik di atas badanku sambil menciumi leher jenjangku, kurasakan kenikmatan dari kocokannya dan kegelian di leherku.

Pak Budi menaikkan badannya dan bertumpu pada lutut dia mengocokku, dengan posisi seperti ini aku bisa melihat expresi wajahnya yang kemerahan dibakar nafsu, tampak sekali rona merah diwajahnya karena kulitnya yang putih tipikal orang cina, wajah gantengnya bersemu kemerahan. Kutarik wajahnya dan kucium bibirnya karena gemas, kocokannya makin cepat dan keras, keringat sudah membasahi badannya meski belum terlalu lama kami bercinta. Kugoyangkan pantatku mengimbangi gerakannya, ternyata itu membuat dia melambung ke atas dan menyemprotlah spermanya di kemaluanku, kepala kemaluannya kurasakan membesar dan menekan dinding kemaluanku, denyutnya sampai terasa di bibir kemaluanku, lalu dia terkulai lemas setelah menyemprotkan spermanya hingga habis.

Agak kecewa juga aku dibuatnya karena aku bahkan belum sempat merasakan sensasi yang lebih tinggi, terlalu cepat bagiku, tak lebih dari sepuluh menit.

“sorry aku duluan” bisiknya di telingaku sambil badannya ditengkurapkan di atas badanku.

“nggak apa kok, ntar lagi” kataku menghibur diri sendiri, kudorong badannya dan dia rebah disampingku, dipeluknya badanku, dengan tetap telanjang kami berpelukan, napasnya masih menderu deru.

Aku berdiri mengambil Marlboro putih dari tas tanganku, kunyalakan dan kuhisap dalam dalam dan kuhembuskan dengan keras untuk menutup kekesalan diriku.

“I need another kontol” pikirku kalut

Kulihat di HP ada SMS dari Ian dengan pesan “namanya Aldi, akan menghubungi mbak, dari Ian”
Jarum jam sudah menunjukkan 23:20, berarti cukup lama aku tadi tak sadarkan diri sampai akhirnya “dibangunkan” Pak Budi, kulihat Pak Budi sudah terlelap kecapekan, kupandangi dia, dengan postur badan yang cukup atletis dan wajah yang ganteng sungguh sayang dia tak bisa bertahan lama, pikirku.

Kunyalakan Marlboro kedua untuk menurunkan birahiku yang masih tinggi setelah setelah mendapat rangsangan yang tak tuntas, lalu kucuci kemaluanku dari sperma Budi, kalau tak ingat menjaga wibawa seorang boss, sudah kuminta si Aan menemaniku malam ini, tapi ketepis angan itu karena akan merusak hubungan kerjaku dengannya.

Kulayangkan pandanganku keluar, gemerlap lampu Kota Surabaya masih kukenali meski sudah bertahun tahun kutinggalkan. Kalau tak ada Pak Budi mungkin sudah kuhubungi Ian untuk segera mengirim Aldi kemari, tapi aku jadi nggak enak sama dia.

Ketika akan kunyalakan batang rokok ketiga, kudengar bel pintu berbunyi, agak kaget juga ada tamu malam malam begini, kuintip dari lubang intip di pintu, berdiri sosok lelaki tegap dengan wajah ganteng seganteng Antonio Banderas, maka kukenakan piyama dan kubuka pintu tanpa melepaskan rantai pengamannya.

“mbak Linda? saya Aldi temannya Ian” sapanya

Agak bingung juga aku, disatu sisi aku membutuhkannya apalagi dengan penampilan dia yang begitu sexy sementara di sisi lain masih ada Pak Budi di ranjang.

“Sebentar ya” kataku menutup pintu kembali, terus terang aku nggak tahu bagaimana menentukan sikap, sebenarnya aku nggak keberatan melayani mereka berdua malah itu yang aku harapkan tapi bagaimana dengan Pak Budi, rekanan bisnis yang baru beberapa jam yang lalu aku kenal, tentu aku harus menjaga citraku sebagai seorang bisnis perempuan professional, aku bingung memikirkannya.

“kudengar ada bel pintu, ada tamu kali” kata Pak Budi dari ranjang

“eh..anu..enggak kok Pak” jawabku kaget agak terbata

“jangan panggil Pak kalau suasana begini, apalagi dengan apa yang baru saja terjadi, panggil Budi atau Koh Budi saja, toh hanya beberapa tahun lebih tua”

“iya teman lama, nggak penting sih, tapi kalau bapak keberatan aku suruh dia pulang biar besok dia kesini lagi” kataku

“ah nggak pa pa kok, santai saja” jawabnya ringan.

Aku kembali membuka pintu tapi aku yang keluar menemui dia di depan pintu, kini kulihat jelas postur badannya yang tinggi dan atletis, umur paling banter 26 tahun, makin membuat aku kepanasan.

“di dalam ada rekanku, bilang aja kamu teman lama dan apapun yang terjadi nanti suka atau nggak suka kamu harus terima bahkan kalau aku memintamu untuk pulang tanpa melakukan apa apa kamu harus nurut, besok aku telepon lagi, aku mohon pengertianmu” kataku pada Aldi tegas.

“Nggak apa mbak, aku ikuti saja permainan Mbak Linda, aku percaya sama Ian dan aku orangnya easy going kok mbak, pandai membawa diri” katanya lalu kupersilahkan masuk.

Kulihat Budi masih berbaring di ranjang dengan bertutupkan selimut. Aku jadi canggung diantara dua lelaki yang baru kukenal ini sampai lupa mengenalkan mereka berdua, basa basi kutawari Aldi minuman, tiba tiba Budi bangkit dari ranjang dan dengan tetap telanjang dia ke kamar mAan. Aku kaget lalu melihat ke Aldi yang hanya dibalas dengan senyuman nakal.

“wah ngganggu nih” celetuk Aldi

“ah enggak udah selesai kok”jawabku singkat

“baru akan mulai lagi, kamu boleh tinggal atau ikutan atau pergi terserah kamu, tapi itu tergantung sama Linda” teriak Budi dari kamar mAan, entah basa basi atau bercanda atau serius aku nggak tau.

“Ian udah cerita sama aku mengenai mbak” bisik Aldi pelan supaya tak terdengar Budi.

Budi keluar dari kamar mAan dengan tetap telanjang, dia mendekatiku menarikku dalam pelukannya lalu mencium bibirku, tanpa mempedulikan keberadaan Aldi dia melorotkan piyamaku hingga aku telanjang di depan mereka berdua. Kami kembali berpelukan dan berciuman, tangan Budi mulai menjamah buah dadaku, meraba raba dan meremasnya. Ciumannya turun ke leherku hingga aku mendongak kegelian, kemudian Budi mengulum putingku secara bergantian, kuremas remas rambutnya yang terbenam di kedua buah dadaku.

Kulihat Aldi masih tetap duduk di kursi, entah kapan dia melepas baju tapi kini dia hanya mengenakan celana dalam mini merahnya, benjolan dibaliknya sungguh besar seakan celana dalamnya tak mampu menampung kebesarannya.

Badannya begitu atletis tanpa lemak di perut menambah ke-sexy-annya. Melihat potongan badannya berahiku menjadi cepat naik disamping rangsangan dan serbuan dari Budi di seluruh badanku, kupejamkan mataku sambil menikmati cumbuan Budi.

Ketika jilatan Budi mencapai selangkanganku, kuraskan pelukan dan rabaan di kedua buah dadaku dari belakang, kubuka mataku ternyata Budi sedang sibuk di selangkanganku dan Aldi berada di belakangku. Sambil meraba raba Aldi menciumi tengkuk dan menjilati telingaku membuat aku menggelinjang kegelian mendapat rangsangan atas bawah depan belakang secara bersamaan, terutama yang dari Aldi lebih menarik konsentrasiku.

Mereka merebahkan badanku di ranjang, Budi tetap berkutat di kemaluanku sementara Aldi beralih mengulum putingku dari kiri ke kanan. Kugapai kemaluan Aldi yang menegang, agak kaget juga mendapati kenyataan bahwa kemaluannya lebih panjang, hampir dua kali punya Budi meski batangnya tak sebesar dia, tapi bentuknya yang lurus ke depan dan kepalanya yang besar membuat aku semakin ingin cepat menikmatinya, kukocok kocok untuk mendapatkan ketegangan maximum dari kemaluannya. Budi membalikkan badanku dan memintaku pada posisi doggie, Aldi secara otomatis menempatkan dirinya di depanku hingga posisi kemaluannya tepat menghadap ke mukaku persisnya ke mulutku.

Untuk kedua kalinya Budi melesakkan kemaluannya ke kemaluanku dan langsung menyodok dengan keras hingga kemaluan Aldi menyentuh pipiku. Kuremas kemaluan itu ketika Budi dengan gairahnya mengobok obok kemaluanku. Tanpa sadar karena terpengaruh kenikmatan yang diberikan Budi, kujilati Kemaluan Aldi dalam genggamanku dan akhirnya kukulum juga ketika Budi menghentakkan badannya ke pantatku, meski tak sampai menyentuh dinding terdalam kemaluanku tapi kurasakan kenikmatan demi kenikmatan pada setiap kocokannya. Kukulum kemaluan Aldi dengan gairah segairah kocokan Budi padaku, Aldi memegang kepalaku dan menekan dalam dalam sehingga kemaluannya masuk lebih dalam ke mulutku meski tak semuanya tertanam di dalam. Sambil mengocok tangan Budi meraba raba punggungku hingga ke dadaku, sementara Aldi tak pernah memberiku peluang untuk melepaskan kemaluannya dari mulutku.

“eegghhmm.. eegghh” desahku dari hidung karena mulutku tersumbat kemaluan Budi.
Tak lama kemudian Budi menghentikan kocokannya dan mengeluakan kemaluannya dari kemaluanku meski belum kurasakan orgasmenya, Aldi lalu menggantikan posisi Budi, dengan mudahnya dia melesakkan kemaluannya hingga masuk semua karena memang batangnya lebih kecil dari kemaluan Budi, kini ini kurasakan dinding bagian dalam kemaluanku tersentuh, ada perasaan menggelitik ketika kemaluan Aldi menyentuhnya.

Dia langsung mengocok perlahan dengan penuh perasaan seakan menikmatai gesekan demi gesekan, makin lama makin cepat, tangannya memegang pinggangku dan menariknya berlawanan dengan gerakan badannya sehingga kemaluannya makin masuk ke dalam mengisi rongga kemaluanku yang tak berhasil terisi oleh kemaluan Budi.

Ada kenikmatan yang berbeda antara Budi dan Aldi tapi keduanya menghasilkan sensasi yang luar biasa padaku saat ini. Cukup lama Aldi menyodokku dari belakang, Budi entah kemana dia tak ada di depanku, mungkin dia meredakan nafsunya supaya tak orgasme duluan.

Aldi lalu membalikku, kini aku telentang di depannya, ditindihnya badanku dengan badan sexy-nya lalu kembali dia memasukkan kemaluannya, dengan sekali dorong amblaslah tertelan kemaluanku, dengan cepat dan keras dia mengocokku, kemaluannya yang keras dengan kepala besar seakan mengaduk aduk isi kemaluanku, aku mendesah tak tertahan merasakan kenikmatan yang kudapat.

[baca juga : cerita dewasa selingkuh dengan seorang guru mesum]

“eehh..yess..fuck me hard..yess” desahku mulai ngaco menerima gerakan Aldi yang eksotik itu.

Sambil mendesah kupandangi wajah tampan Antonio Banderas-nya yang menurut taksiranku tak lebih dari 26 tahun, membuat aku makin kelojotan dan tergila gila dibuatnya. Kulihat Budi berdiri di samping Aldi, tatapan mataku tertuju pada kemaluannya yang terbungkus kondom yang menurutku aneh, ada asesoris di pangkal kondom itu, sepertinya ada kepala lagi di pangkal kemaluannya. Kulihat dia dan dia membalas tatapanku dengan pandangan dan senyum nakal.
Ditepuknya pundak Aldi sebagai isyarat, agak kecewa juga ketika Aldi menarik keluar kemaluannya disaat saat aku menikmatinya dengan penuh nafsu.

Tapi kekecewaan itu tak berlangsung lama ketika Budi menggantikan posisinya, begitu kemaluannya mulai melesak masuk kedalam tak kurasakan perbedaannya dari sebelumnya tapi begitu kemaluannya masuk semua mulailah efek dari kondom berkepala itu kurasakan, ternyata kepala kondom itu langsung menggesek gesek klitorisku saat Budi menghunjam tajam ke kemaluanku, klitorisku seperti di gelitik gelitik saat Budi mengocok kemaluanku, suatu pengalaman baru bagiku dan kurasakan kenikmatan yang aneh tapi begitu penuh gairah.

Budi merasakan kemenangan ketika badanku menggelinjang menikmati sensasinya. Aldi kembali mengulum putingku dari satu ke satunya, lalu badannya naik ke atas badanku dan mekangkangkan kakinya di kepalaku, disodorkannya kemaluannya ke mulutku, aku tak bisa menolak karena posisinya tepat mengarah ke mulut, kucium aroma kemaluanku masih menempel di kemaluannya, langsung kubuka mulutku menerima kemaluan itu. Sementara kocokan Budi di kemaluanku makin menggila, kenikmatannya tak terkirakan, tapi aku tak sempat mendesah karena disibukkan kemaluan Aldi yang keluar masuk mulutku. Aku menerima dua kocokan bersamaan di atas dan dibawah, membuatku kewalahan menerima kenikmatan ini.

Setelah cukup lama mengocokku dengan kondom kepalanya, Budi menarik keluar kemaluannya dan melepaskan kondomnya lalu dimasukkannya kembali ke kemaluanku, tak lama kemudian kurasakan denyutan dari kemaluan Budi yang tertanam di kemaluanku, denyutannya seakan memelarkan kemaluanku karena terasa begitu membesar saat orgasme membuatku menyusul beberapa detik kemudian, dan kugapailah kenikmatan puncak dari permainan sex, kini aku bisa mendapatkan orgasme dari Budi. Tahu bahwa Budi telah mendapatkan kepuasannya, Aldi beranjak menggantikan posisi Budi, tapi itu tak lama, dia memintaku untuk di atas dan kuturuti permintaannya.
Aldi lalu telentang di sampingku, kunaiki badannya dan kuatur badanku hingga kemaluannya bisa masuk ke kemaluanku tanpa kesulitan berarti.

Aku langsung mengocok kemaluannya dengan gerakan menaik turunkan pantatku, buah dadaku yang menggantung di depannya tak lepas dari jamahannya, diremasnya dengan penuh gairah seiring dengan kocokanku. Gerakan pinggangku mendapat perlawanan dari Aldi, makin dia melawan makin dalam kemaluannya menancap di kemaluan dan makin tinggi kenikmatan yang kudapat. Karena gairahku belum turun banyak saat menggapai orgasme dengan Budi, maka tak lama kemudian kugapai lagi orgasme berikutnya dari Aldi, denyutanku seolah meremas remas kemaluan Aldi di kemaluanku.

“OUUGGHH.. yess.. yess.. yess” teriakku

Aldi yang belum mencapai puncaknya makin cepat mengocokku dari bawah, badanku ambruk di atas dadanya, sambil tetap mengocokku dia memeluk badanku dengan erat, kini aku Cuma bisa mendesah di dekat telinganya sambil sesekali kukulum. Tak berapa lama kemudian Aldi pun mencapai puncaknya, kurasakan semprotan sperma dan denyutan yang keras di kemaluanku terutama kepala kemaluannya yang membesar hingga mengisi semua kemaluanku.

“oouuhh..yess..I love it” teriakku saat merasakan orgasme dari Aldi.

Kurasakan delapan atau sembilan denyutan keras yang disusul denyutan lainnya yang melemah hingga menghilang dan lemaslah batang kemaluan di kemaluanku itu.

Kami berpelukan beberapa saat, kucium bibirnya dan akupun berguling rebahan di sampingnya, Aldi memiringkan badannya menghadapku dan menumpangkan kaki kanannya di badanku sambil tangannya ditumpangkan di buah dadaku, kurasakan hembusan napasnya di telingaku.

“mbak Linda sungguh hebat” bisiknya pelan di telingaku.

Aku hanya memandangnya dan tersenyum penuh kepuasan. Cukup lama kami terdiam dalam keheningan, seolah merenung dan menikmati apa yang baru saja terjadi.

Akhirnya kami dikagetkan bunyi “beep” satu kali dari jam tangan Aldi yang berarti sudah jam 1 malam.

“Aldi, kamu nginap sini ya nemenin aku ya, Koh Budi kalau nggak keberatan dan tak ada yang marah di rumah kuminta ikut nemenin, gimana?” pintaku

“dengan senang hati” jawabnya gembira, Aldi hanya mengangguk sambil mencium keningku.
Kami bertiga rebahan di ranjang, kumiringkan badanku menghadap Budi, kutumpangkan kaki kananku ke badannya dan tanganku memeluk badannya, sementara Aldi memelukku dari belakang, tangannya memegang buah dadaku sementara kaki kanannya ditumpangkan ke pinggangku.Tak lama kemudian kami tertidur dalam kecapekan dan penuh kenangan, aku berada ditengah diantara dua lelaki yang baru kukenal beberapa jam yang lalu.

Entah berapa lama kami tidur dengan posisi seperti itu ketika kurasakan ada sesuatu yang menggelitik kemaluanku, kubuka mataku untuk menepis kantuk, ternyata Aldi berusaha memasukkan kemaluannya ke kemaluanku dari belakang dengan posisi seperti itu. Kuangkat sedikit kaki kananku untuk memberi kemudahan padanya, lalu kembali dia melesakkan kemaluannya ke kemaluanku, aku masih tak melepaskan pelukanku dari Budi sementara Aldi mulai mengocokku dari belakang dengan perlahan sambil meremas remas buah dadaku.

Tanganku pindah ke kemaluan Budi dan mengocoknya hingga berdiri, tapi anehnya Budi masih memejamkan matanya, sepuluh menit kemudian Aldi kurasakan denyutan kuat dari kemaluan Aldi pertanda dia orgasme, tanpa menoleh ke Aldi aku melanjutkan tidurku, tapi ternyata Budi sudah bangun, dia memintaku menghadap ke Aldi ganti dia yang mengocokku dari belakang seperti tadi sambil aku memeluk badan Aldi dan memegangi kemaluannya yang sudah mulai melemas.
Cerita Seks Nikmatnya Digilir Para Lelaki
Cerita Seks Nikmatnya Digilir Para Lelaki
Berbeda dengan kocokan Aldi yang pelan pelan, Budi melakukan kocokan dengan keras disertai remasan kuat di buah dadaku sampai sesekali aku menjerit dalam kenikmatan, cukup lama Budi mengocokku hingga aku mengalami orgasme lagi beberapa detik sebelum dia mengalaminya, kemudian kami melanjutkan tidur yang terputus.
Kami terbangun sekitar pukul delapan ketika telepon berbunyi, kuangkat dan ternyata dari Aan.

“pagi bu, udah bangun?” tanyanya dari seberang

“pagi juga Aan, untung kamu bangunin kalau tak bisa ketinggalan meeting nih, oke kita ketemu di bawah pukul 9, tolong di atur tempat meetingnya, cari yang bagus” jawabku memberi perintah

“beres bu” jawabnya

“Budi, aku ada meeting dengan Pak Putu jam 10, kamu bagaimana?” tanyaku

“lho meetingnya kan juga sama sama aku” jawab Budi

“oh ya? dia tak pernah cerita tuh, dia Cuma bilang meetingnya antara aku, dia dan satu orang lagi rekannya”

“oke anyway, aku tak mau datang ke tempat meeting dengan pakaian yang sama dengan kemarin”

“Ayo mAan lalu kita cari pakaian di bawah” kataku

“Aldi, kamu boleh tinggal disini atau pergi, tapi yang jelas aku nanti memerlukanmu setelah meeting” kataku sambil menuju ke kamar mAan menyusul Budi yang mAan duluan.

Kami berdua mAan dibawah pancuran air hangat, kami saling menyabuni satu sama lain, dia memelukku dari belakang sambil meremas remas buah dadaku dan menjilati telingaku, kuraih kemaluannya dan kukocok, badan kami yang masih berbusa sabun saling menggesek licin, ternyata membuatku lebih erotis dan terangsang.

Tanpa menunggu lebih lama kuarahkan angkat kaki kananku dan mengarahkan kemaluannya ke kemaluanku, dengan ketegangannya ditambah air sabun maka mudah baginya untuk masuk ke dalam, Budi langsung menancapkan sedalam dia bisa. Pancuran air panas membasahi badan kami berdua lebih romantis rasanya, tapi itu tak berlangsung lama ketika Budi menyemprotkan spermanya di dalam kemaluanku, tak banyak dan tak kencang memang tapi cukuplah untuk memulai hari ini dengan dengan penuh gairah.

Setelah mAan aku mengenakan pakaian kerja resmi, entah mengapa kupilih pakaian yang resmi tapi santai, mungkin karena terpengaruh perasaanku yang lagi bergairah maka tanpa bra kukenakan tank top dan kututup dengan blazer untuk menutupi putingku yang menonjol di balik tank top-ku, lalu kupadu dengan rok mini sehingga cukup kelihatan resmi, aku merasa sexy dibuatnya.
Kutinggalkan amplop berisi uang di meja dan kucium Aldi.

“Kalau kamu mau mau keluar ada uang di meja, ambil saja ntar aku hubungi lagi, kalau mau tinggal up to you be my guest” bisikku yang dibalas ciuman dan remasan di buah dadaku.

Pukul 9:15 kami keluar kamar, bersamaan dengan Aan keluar dari kamarnya tepat ketika aku keluar bersama Budi dan Aldi memberiku ciuman di depan pintu, dia menoleh ke arah kami tapi segera memalingkan wajahnya ke arah lain seolah tak melihat, tapi aku yakin dia melihatnya.

“Morning Aan” sapaku

“eh morning Bu, ruang meeting sudah aku atur dan semua dokumen sudah saya siapkan, copy file-nya ada di laptop ibu” jawabnya memberi laporan ketika kami menuju lift.

“Thanks Ndi” jawabku singkat.

Kami bertiga terdiam di lift, aku yang biasanya banyak bicara mencairkan suasana jadi kaku dan salah tingkah, masih memikirkan apa yang ada di pikiran Aan bahwa aku keluar dari kamar dengan seorang lelaki dan ada lelaki lainnya di kamarku, ah persetan pikirku, saking kikuknya sampai aku lupa mengenalkan Budi pada Aan.

Dalam kebekuan kuamati Aan dari bayangan di cermin lift, baru kusadari kalau sebenarnya Aan mempunyai wajah tampan dan berwibawa, meski umurnya baru 27 tahun tapi ketegasan tampak di kerut wajahnya. Sedikit lebih tinggi dariku tapi karena aku pakai sepatu hak tinggi, maka kini aku lebih tinggi darinya, posturnya badannya cukup proporsional karena dia sering cerita kalau fitness secara teratur 3 kali seminggu, aku baru sadar bahwa selama ini aku nggak pernah melihat Aan sebagai seorang lelaki, tapi lebih kepada pandangan seorang Bos ke anak buahnya.

Diluar dugaan, Aan ternyata memergokiku saat mengamatinya, pandangan mata kami bertemu di pantulan cermin.

“Ting”, untunglah lift terbuka, aku segera keluar menghindar dari pandangan Aan, kami langsung breakfast setelah terlebih dulu mencarikan Budi pakaian dan dasi pengganti, meski Shopping Arcade masih belum buka karena terlalu pagi, tapi dengan sedikit paksaan akhirnya mereka mau juga melayani kami.

“Eh Bu Linda, saya kok belum dikenalin dengan Mas ini” Tanya Budi bersikap resmi, mengingatkanku akan kekonyolanku pagi ini.

“Oh iya, Aan, ini Pak Budi, clien dari Pak Putu yang akan menjual produk kita ke Cina yang berarti Clien kita juga, dan nanti Pak Budi akan gabung dengan kita di meeting” kataku yang disambut uluran tangan Budi ke Aan.

“Pak Budi, Aan ini salah satu orang kepercayaan saya, dialah yang in charge nanti, meski baru dua tahun ikut saya tapi naluri bisnisnya boleh di uji” lanjutku memuji Aan, itu biasa kulakukan untuk memperbesar rasa percaya diri anak buah sekaligus supaya
clien lebih confident.

Ini adalah breakfast terlama yang pernah aku alami, serba salah tingkah dan yang pasti aku tak berani memandang Aan, entah mengapa. Untunglah Budi bisa mencairkan suasana bengan berbagai joke-nya.

Bertiga kami masuk ke ruang meeting yang sudah di booking Aan, ternyata cukup nyaman suasananya, tak seperti ruang meeting biasa yang kaku dan menjemukan, tapi lebih terkesan bernuansa santai tapi serius, Meeting table bulat dengan dikelilingi 6 kursi putar, sementara dipojokan ada sofa dan meja kecil, di ujung yang lain terdapat tea set lengkap dengan electric kettle.
Aku dan Aan duduk bersebelahan menyiapkan dokumen di meja, kuletakkan laptop di depanku, Pak Budi duduk di sebelah kiriku.

“Ndi tolong nyalakan laptop, aku ke toilet sebentar” kataku sambil meninggalkan mereka berdua.

Kuhabiskan sebatang Marlboro di toilet untuk menghilangkan keteganganku dan kurapikan baju dan make up ku.

Pak Putu sudah berada di ruangan ditemani dengan wanita yang muda dan cantik ketika aku kembali ke ruangan meeting.

“Pagi Pak Putu, pagi Bu” sapaku sambil menyalami mereka berdua

“Pagi juga Mbak Linda, anda kelihatan cantik pagi ini” kata Pak Putu

“emang selama ini nggak cantik” jawabku

“Linda” sapaku pada wanita di samping Pak Putu sambil mengulurkan tangan

“Lisa” jawabnya sambil tersenyum manis

“bukan begitu, tapi pagi ini lebih cantik dan cerah”

“Oh Mbak Lisa, selama ini kita hanya bertemu lewat telepon dan faximile” kataku lagi

“dan sekarang inilah dia orangnya” lanjut Pak Putu.

Ternyata Aan belum menyalakan laptopku, agak marah juga aku melihat dia tak melaksanakan perintahku, maka dengan mata melotot ke arahnya kuambil kembali laptopku dari hadapannya lalu kunyalakan. Betapa terkejutnya aku ketika laptop itu menyala, tampak di monitor laptopku seorang wanita sedang telentang menerima kocokan di kemaluannya sementara mulutnya mengulum kemaluan kedua dan tangan satunya memegang kemaluan ketiga, aku baru tersadar kalau sebelum berangkat dari kantor kemarin sempat membuka koleksi pic yang ada laptop-ku dan karena buru buru mungkin saat mematikan laptop bukan “shut down” yang aku pilih tapi “stand by”.

Mukaku merah dibuatnya, untung tak ada yang memperhatikan, langsung aku “re-booting”, kulirik Aan tapi dia menyiapkan document dan tak memperhatikanku, pantesan dia langsung mematikannya, pikirku. Aku jadi lebih salah tingkah lagi terhadap Aan, tapi segera aku kembali konsentrasi untuk meeting ini.

Meeting dimulai dengan presentasi Aan dan dilakukan tanya jawab, justru yang banyak bertanya adalah Lisa dan itu dilayani dengan cekatan oleh Aan, sementara aku Cuma kadang kadang saja menguatkan pendapat Aan atau membantunya membuat keputusan untuk menerima atau klarifikasi, hal ini kulakukan untuk lebih meyakinkan Lisa maupun Pak Putu disamping untuk memperbesar rasa percaya diri pada Aan. Cukup alot juga pembicaraan antara mereka berdua, tapi aku tak mau mencampuri sebelum dia benar benar kepepet. Aku kagum sama Lisa yang cantik tapi piawai dalam negosiasi.

Setelah masalah teknis dan kontrak selesai sampailah pada masalah harga dan itu adalah tugasku dengan Pak Putu, dengan beberapa alternatif harga yang aku tawarkan akhirnya dicapailah kesepakatan.

“Ndi, kamu revisi dan di print di Business Center supaya bisa ditandatangani sekarang juga, jangan lupa materei-nya” perintahku

“baik bu”jawabnya lalu dia keluar sambil membawa laptopku dokumen dokumen yang diperlukan.
Kupesan champagne merayakan kerja sama ini ketika Aan sudah meninggalkan ruangan.

“Selamat Mbak Linda semoga sukses dengan kerja sama kita ini” Pak Budi menyalamiku sambil mencium kedua pipiku.

Aku menyalami lalu memeluk Lisa dan menempelkan pipiku padanya.

“Anda begitu hebat dalam negosiasi” kataku

Tanpa kuduga dia menjawab berbisik di telingaku.

“terima kasih, Pak Putu tahu lho apa yang terjadi tadi malam di tempat Ibu”

“oh ya? apa itu”jawabku kaget

“Pak Budi menginap di tempat mbak” katanya pelan mengagetkanku

“dan satu orang cowok lagi” lanjutnya

Kulepas pelukannya dan kupandangi Lisa yang masih kelihatan polos itu, lalu pandanganku beralih ke Budi sebagai protes, tapi dia hanya mengerutkan kening dan mengangkat bahu saja sambil senyum.
Tak sempat terbengong lebih lama, Pak Putu menyalamiku

“Selamat atas kerja sama kita” katanya sambil menyalamiku dan tak kusangka sangka dia menarik badanku ke pelukannya

“I know what you did last night” katanya sambil mempererat pelukannya dan mengelus elus punggungku.

Aku masih tertegun tak merespon ucapan maupun tindakan Pak Putu, tapi kurasakan buah dadaku tergencet di dadanya saat dia memelukku erat.

“Pak Putu banyak orang, malu ah” jawabku pelan

“banyak orang? ini kan kita kita juga” jawabnya tanpa melepas pelukannya tapi malah meremas pantatku

Kulirik Pak Budi, dia hanya bediri di pojok melihat kami, sementara Lisa malah mendekat ke Pak Budi.

“Mari kita rayakan kerja sama ini dengan penuh persahabatan” bisiknya sambil mencium pipi dan bibirku bersamaan dengan tangannya menyingkap rok miniku hingga ke pinggang, aku yakin Lisa maupun Budi bisa melihat celana dalam model “Thong” yang hanya terdapat penutup segitiga kecil di depan, hingga pasti mereka sudah melihat pantatku.

Ciuman Pak Putu sudah sampai di leherku, dilepasnya blazer yang menutupi bagian luarku hingga tampak tank top pink yang kukenakan dibaliknya. dengan hanya mengenakan tank top, maka tampaklah putingku yang menonjol di baliknya.

Sebenarnya aku bisa saja menolak cumbuan Pak Putu kalau mau, tapi melihat pandangan Pak Putu yang penuh wibawa dan wajahnya yang galak tegas membuat aku takluk dalam pelukan dan ciumannya. Bukan ketakutan masalah bisnis, aku yakin sebagai seorang professional dia bisa membedakan antara bisnis dan pribadi, tapi memang pada dasarnya aku juga mau dicumbunya.
Kulihat Pak Budi sudah berciuman dengan Lisa sementara tangannya meremas remas buah dada Lisa yang montok itu.

Pak Putu lalu menelentangkan badanku di atas meja meeting, disingkapkan rokku dan dari celah celana dalam mini dia mulai menciumi dan menjilati kemaluanku dengan gairahnya.
Tiba tiba kami dikagetkan ketukan di pintu, segera aku berdiri dan membetulkan rok miniku dan kuambil blazerku, tapi Pak Putu memberi tanda supaya nggak usah dipakai.

Lisa membuka pintu, ternyata room boy yang mengantar champagne pesananku, Lisa menerima dan menyelesaikan pembayarannya ke kamarku dan dia minta supaya di depan pintu diberi tanda “DO NOT DISTURB”, setelah mengunci pintu Lisa membuka dan menuangkan untuk kami.
Pak Putu tak mau kehilangan waktu, begitu pintu ditutup, dia kembali memelukku lalu menurunkan tali tank top ku hingga ke tangan, setelah meremas remas sambil mencium leherku, ditariknya tank topku hingga ke perut, maka terpampanglah buah dadaku di depan semua orang.

“wow, very nice breast, begitu kencang, I love it” komentar Pak Putu lalu kepalanya dibenamkan di antara kedua bukit itu sambil tangannya meremas remasnya.

Ciumannya dengan cepat berpindah ke puncak bukit dan secara bergantian dia mengulum dari satu puncak ke puncak lainnya. dengan cepat ciuman Pak Putu turun ke perut dan selangkanganku setelah terlebih dahulu melemparkan tank top ke Budi dan kembali merebahkan aku di meja meeting, dijilatinya kemaluanku dari balik celana dalamku. Budi mendekatiku dari atas lalu mencium bibirku dan meremas buah dadaku kemudian mengulum putingnya, sementara jilatan Pak Putu makin menggila di kemaluanku, tapi aku tak berani mendesah.

Lisa sudah melepas blazernya hingga kelihatan buah dadanya yang montok menantang dibalik kaos you can see ketatnya, dia hanya duduk memperhatikan kami, tak seorangpun menyentuh champagne yang sudah kupesan, ternyata akulah yang menjadi santapan selamat, bukan champagne itu. Disaat aku lagi meregang dalam kenikmatan, kembali kami dikagetkan suara handle pintu dibuka, lalu berganti dengan ketukan.

“Aan” teriakku panik aku tak ingin Aan melihatku dalam keadaan seperti ini, akan mengurangi wibawaku dimatanya.

Kudorong kepala Pak Putu dengan halus, aku mencari tank top atau blazerku tapi terlambat, Lisa sudah membuka dengan hati hati pintu itu dan masuklan Aan dengan membawa laptop dan dokumen dokumennya sebelum aku sempat menutupi badan atasku.

Kulihat wajah Aan melongo terkaget kaget melihat aku duduk di meja meeting dalam keadaan topless dan kaki di atas kursi, sementara Pak Putu masih jongkok di bawahku dan Budi ada dibelakangku dengan bertelanjang dada.

“eh ma..ma..maaf mengganggu” katanya lalu berbalik ke pintu, tapi Lisa segera menghalangi dan menutup kembali pintu itu.

“Udah duduk saja di sini” jawab Lisa sambil menghalangi pintu itu dengan badannya.

“tapi..tapi ..tapi ini harus ditandatangani” jawabnya belum sadar dengan apa yang terjadi.

“nggak ada tapi, tanda tangan mah gampang, sini aku Bantu” kata Lisa sambil mengambil dokumen dan laptop dari tangan Aan dan meletakkannya di meja pojok ruangan di samping champagne..

“taruh di sini saja, kamu lihat sendiri kan mereka sedang sibuk” kata Lisa sambil menarik Aan duduk disebelahnya di sofa.
Kulihat wajah Aan masih melongo kaget melihat bagaimana tingkah lakuku.

“Sudah terlambat, persetan, apa yang terjadi terjadilah” pikirku dan kembali telentang di meja menuruti permintaan Pak Putu, dipelorotnya rok mini dan celana dalamku.

Pada mulanya agak risih juga bertelanjang di depan Aan tapi selanjutnya sudah tak kuperhatikan lagi kehadiran Aan di ruangan itu ketika lidah Pak Putu dengan cantiknya kembali menggelitik klitorisku. Budi membimbing tanganku dan dipegangkan ke kemaluannya yang sudah tegang, ternyata dia sudah mengeluarkan kemaluannya dari lubang resliting, tanpa menunggu lebih lama kukocok kemaluan itu.
Pak Putu melepas celana dalamku dan dilemparkannya ke arah Lisa dan Aan, ternyata Lisa sudah duduk di pangkuan Aan dan mereka sedang berciuman.

Pak Putu menarikku duduk di tepi meja, ternyata dia masih berpakaian lengkap, kubantu melepaskan pakaiannya, lalu aku jongkok di depannya, kupelorotkan celananya, ternyata dia tak memakai celana dalam, dan wow kemaluannya yang menegang membuatku terpesona, besar dengan guratan otot di batangnya menonjol dengan jelas.

Segera kujilati kepala kemaluannya dan memasukkan kepala kemaluannya ke mulutku, kupermainkan dengan lidahku di dalam, tak tahan diperlakukan seperti itu, Pak Putu menaikkanku kembali duduk di meja, disapukannya kepala kemaluan itu ke bibir kemaluanku, pelan pelan mendorong hingga masuk semua lalu didiamkannya sejenak, maka melesaklah kemaluan kedua di hari untuk kemaluanku.

Dia memandangku dengan penuh nafsu, mencium bibirku, lalu mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur mengocok kemaluanku, tangannya meraba buah dadaku lalu wajahku dan jarinya dimasukkan ke mulutku, kukulum dan kupermainkan jarinya dengan lidahku.
Pak Budi mendekat lalu meremas remas buah dadaku, kuraih kemaluannya yang masih tegang nongol dari lubang resliting dan kukocok seirama kocokan Pak Putu.

Kudengar desahan dari tempat lain, ternyata Lisa sudah semi telanjang di pangkuan Aan sedang mendapat kuluman dan remasan darinya di kedua putingnya, buah dada Lisa yang montok itu hampir menutup wajah Aan yang sedang terbenam di celah celahnya. Melihat hal itu, Pak Budi meninggalkan kami menuju ke Lisa dan Aan, segera dia mengulum puting Lisa yang merah menantang berbagi dengan Aan, mendapat kuluman dari dua orang, Lisa sepertinya ingin teriak tapi ditahannya dengan menggigit jarinya.

Setelah puas mengocokku dari depan sambil meremas remas buah dadaku, Pak Putu memintaku berbalik, maka aku berdiri membelakangi dia dan badanku membungkuk ke depan bertumpu pada meja, kaki kananku kunaikkan di kursi, Pak Putu kembali melesakkan kemaluannya di kemaluanku, dia mengocok dengan kerasnya hingga meja meeting itu begoyang goyang. dengan posisi seperti ini aku bisa melihat Lisa sedang duduk di sofa menerima jilatan Aan di kemaluan mengulum kemaluan Pak Budi yang berdiri di sampingnya.

Kocokan Pak Putu serasa menggesek semua sisi dinding kemaluanku, begitu nikmat hingga aku melayang dibuatnya, ingin aku menjerit karenanya tapi kutahan dengan menggigit bibirku.
Terbuai oleh kenikmatan dari Pak Putu, tanpa kusadari ternyata Lisa, Aan dan Budi ternyata sudah bergeser ke meja di dekatku hingga aku bisa melihat dengan jelas bagaimana Aan mempermainkan klitoris Lisa sambil mengocokkan jarinya, ternyata dia sudah mahir juga, batinku. Sementara Pak Budi berada di antara aku dan Lisa, sambil mengulum puting Lisa dia meremas buah dadaku.

Terkaget aku ketika melihat Aan mengusapkan kemaluannya di kemaluan Lisa, ternyata kemaluan Aan begitu besar, sepertinya jauh lebih besar dari punya Pak Putu apalagi Pak Budi, mungkin sama besar dengan punya suamiku tapi dengan bentuk yang melengkung ke atas membuatku ingin menikmatinya, itu adalah bentuk kemaluan favoritku.

Sepertinya dia kesulitan memasukkan kemaluan besarnya ke kemaluan Lisa, berulang kali dia berusaha memasukkan tapi gagal meski kemaluan Lisa sudah basah, dicoba lagi dan dicoba lagi hingga berhasil meski hanya separuh, tapi Lisa sudah menggelinjang gelinjang entah kesakitan atau ke-enak-an. Kupegang tangannya dan dia meremasnya dengan kuat saat Aan berusaha mendorong lebih dalam, memasukkan mili demi mili kemaluannya ke dalam kemaluan Lisa.

Sementara kocokan Pak Putu juga tak kalah nikmatnya, goyangannya semakin bervariasi menghunjam kemaluanku dari berbagai arah dan gerakan. Tangan kami saling meremas dalam kenikmatan.

Aan mulai mengocok Lisa dengan perlahan dan semakin lama semakin cepat, desah tertahan keluar dari hidung Lisa, dia kelojotan menerima kocokan Aan meskipun pelan menurutku, sambil meremas buah dada Lisa Aan mulai mempercepat dan menyodok dengan keras. Remasan tangan Lisa makin kencang, sekencang kocokan Aan padanya.

“Aaauughh..eeghh..ss” teriak Lisa tak dapat menahan kenikmatan yang diberikan Aan.

“sstt” bisikku sambil menutupkan tanganku ke mulutnya, meski aku sendiri sedang terbakar nafsu dan kenikmatan.

Aan mengocok Lisa dengan penuh gairah nafsu, buah dada Lisa yang besar bergoyang goyang liar seiring dengan kocokannya, tapi segera dihentikan dengan kuluman Pak Budi yang sepertinya nggak rela membiarkan buah dada itu bergoyang sendirian.

Kokocakan Pak Putu sungguh bervariasi, baik kecepatan, arah maupun goyangannya, sungguh trampil dia dalam bercinta, membuatku panas dingin dibuatnya.

Setelah puas mengocokku, Pak Putu menarik keluar kemaluannya, dan digantikan dengan Pak Budi mengocokku. Aku berjongkok di kursi dan tanganku bersandarkan sandaran kursi hingga Pak Budi mengocokku dengan doggie style dengan tetap menghadap ke Lisa dan Aan dan juga Pak Putu yang kini berdiri di sisi Aan menunggu giliran sambil meremas dan mengulum buah dada Lisa yang montok manantang itu menggantikan posisi Pak Budi.

cerita sex,cerita dewasa,cerita mesum,cerita ngentot, ngentot artis, cerita bokep, Cerita panas
Aan mengocok Lisa makin ganas, dengan satu kaki terangkat di pundaknya sedang satu kaki lagi dipegang tangannya dengan posisi terpentang pasti kemaluan Aan melesak masuk ke kemaluan Lisa hingga menyentuh dinding terdalamnya, dengan disertai dorongan yang keras pasti Lisa sudah terbang ke awang awang kenikmatan.

Aan lalu memiringkan badan Lisa hingga dia menghadap ke arahku, lalu dia kembali mengocoknya dengan keras, buah dada Lisa ikut bergoyang goyang seirama kocokan Aan. “gila hebat juga ini anak” batinku.

Kocokan Pak Budi tak terlalu kuperhatikan karena setelah mendapatkan Pak Putu punya Pak Budi taklah terlalu berasa meski aku bisa menikmati sedikit kenikmatan yang berbeda, dengan melihat bagaimana Aan memperlakukan Lisa aku bisa dengan cepat bergairah kembali, maka kugoyangkan pantatku melawan gerakan Pak Budi, secepat kocokan Aan pada Lisa, aku begitu horny dibuatnya, sambil berharap supaya Aan tak orgasme di kemaluan Lisa terlebih dahulu supaya aku bisa menikmati semprotan pertamanya.

Sambil menunggu giliran yang belum juga diberikan Aan, Pak Putu menggapai buah dadaku dan tangan satunya meremas buah dada Lisa yang lebih montok seolah hendak membAanngkan, kedua tangannya meremas dua buah dada yang berlainan bentuk dan ukuran.

Aku sudah khawatir cemas kalau ternyata Aan menyemprotkan spermanya di kemaluan Lisa terlebih dahulu, karena sudah cukup lama dia mengocokkan kemaluannya ke kemaluan Lisa, sudah setengah jam lebih.

“gila kuat juga si Aan ini” batinku.

Kini Aan mengocok Lisa dengan posisi doggie di atas kursi, meniru posisiku hingga kami saling berhadapan, buah dada Lisa yang besar menggantung dan bergoyang dengan indahnya ketika Aan mengocoknya, Pak Putu yang masih menunggu giliran dari Aan duduk di meja antara kami, hingga kami bisa mengulumnya secara bersamaan antara kuluman dan jilatan. Lisa mengulum maka aku menjilati sisanya begitu juga sebaliknya, dua lidah di satu kemaluan.

Mendapatkan perlakuan seperti itu dari dua wanita cantik seperti aku dan Lisa membuat Pak Putu merem melek, tangannya meremas rambutku juga rambut Lisa. Sepertinya Lisa sudah bisa merasakan nikmatnya kemaluan Aan yang besar itu hingga dia bisa membagi konsentrasi dengan kuluman pada kemaluan Pak Putu.

Aan menghentikan kocokannya dan menyerahkan Lisa ke Bos-nya dan mereka bertukar tempat, Aan mengganti posisi pada mulut Lisa setelah terlebih dahulu memutar kursi Lisa menjauh dariku, kecewa juga aku dibuatnya karena tak bisa menikmati kemaluan Aan itu, ingin minta tapi masih ada perasaan segan atau gengsi. Masih bisa kulihat dengan lebih jelas betapa nikmatnya kemaluan Aan itu hingga Lisa mengulum dengan ganasnya meski tak bisa memasukkan semuanya.

Aku yakin Lisa kurang bisa menikmati Pak Putu setelah merasakan kemaluan Aan. Kocokan Pak Budi tak kuperhatikan lagi, tapi aku lebih menikmati kuluman Lisa pada kemaluan Aan itu meski Pak Budi mulai melakukan variasi gerakannya, tangannya mengelus punggung dan buah dadaku, dia lalu memutar kursi hingga Aku dan Lisa berjejer, tapi Aan malah menggeser badannya ke sisi lain malah menjauhiku.

Pak Putu meremas buah dadaku sambil mengocok Lisa, sementara Pak Budi meremas buah dada Lisa sambil mengocokku dan Aan meremas remas buah dada montok yang satunya dari sisi lainnya, kini Lisa mendapat servis dari tiga orang, sementara aku menginginkan Aan tapi dia selalu menghindariku sepertinya dia segan menyentuhku.

“come on Aan, satu remasan atau satu kuluman saja darimu, I need you” jerit batinku tapi kembali rasa gengsi sebagai Bos terhadap dia masih tinggi.

 Aan berciuman dengan Lisa sambil tangannya tetap meremas buah dadanya, aku iri melihatnya, bahkan ketika Pak Putu dan Pak Budi bertukar tempat, Aan tetap tak mau beranjak ke arahku. Kembali aku mendapat kocokan dari Pak Putu, oh much better than before, kurasakan kenikmatan kembali dari Pak Putu, ouh betapa nikmatnya sodokan dan kocokan beliau jauh lebih nikmat dibAanng dengan Pak Budi tadi, kini aku kembali tenggelam dalam kenikmatan birahi. Tapi itu tak berlangsung lama ketika Pak Putu dan Pak Budi bertukaran tempat lagi, hingga tiga kali.

Tak lama kemudian ketika Pak Putu sedang keras kerasnya menyodokku, kembali aku dibuat iri pada Lisa saat Pak Budi dan Aan bertukar tempat, Lisa sudah mendapat kocokan Aan untuk kedua kalinya, kepalanya mendongak dan badannya menggeliat ketika Aan memasukkan kembali kemaluannya tapi tak lama setelah itu dia sudah mulai mengulum kemaluan Pak Budi. Pak Putu kembali meremas remas buah dada Lisa sambil mengocokku tapi Aan tak mau melakukan hal itu padaku, dia tetap serius mengocok Lisa sampai berulang kali dia menggeliat ketika Aan mengocoknya dengan keras.

“Lisa sudah mendapatkan tiga kemaluan, di mulut maupun kemaluan, tapi aku baru dua, itupun kurang memuaskanku” teriak batinku.

Kupandangi wajah Aan ketika mengocok Lisa begitu ganteng dan cool, expresinya tak berubah seperti biasa saja kecuali keringatnya yang menetes membasahi badannya yang atletis itu sehingga makin sexy. Belum sekalipun Aan menyentuhku, entah dia mau menghukumku atau karena segan, aku tak tahu.

Kuhibur diriku dengan berkonsentrasi pada kocokan Pak Putu, aku tak mau tersiksa terlalu lama mengharapkan Aan, maka kugerakkan pinggangku mengimbangi Pak Putu dan hasilnya sungguh luar biasa, dia bergerak semakin liar dan akhirnya tak bisa bertahan lama, maka menyemprotlah spermanya ke kemaluanku dengan kencangnya, kurasakan denyutan yang keras dari kemaluannya di dalam kemaluanku seakan menghantam dinding rahimku. Bersamaan dengan semprotan Pak Putu, ternyata Pak Budipun menyemprotkan spermanya di muka Lisa, sperma itu menyemprot kemana mana baik di mulut, wajah dan sebagian ke rambutnya.

Pak Putu menarik kemaluannya yang sudah lemas begitupun dengan Pak Budi, aku belum mencapai orgasme, hanya satu kemaluan yang masih berdiri yaitu Aan, akhirnya aku harus mengalahkan gengsiku yang dari tadi mencegahku.

Kuhampiri Aan yang sedang menyocok Lisa, dari belakang kupeluk dia hingga badan telanjangku menempel di punggungnya, keringat kami menyatu, aku elus dadanya yang bidang berbulu. Sesaat dia menghentikan gerakannya tapi kemudian dilanjutkan kembali dengan lebih keras.

Merasa belum mendapat respon darinya, aku bergeser ke depan, kujilati puting dadanya sambil mengelus kantung bolanya, Aan masih tetap tak mau menyentuhku malah makin cepat mengocok Lisa, maka kupegang tangannya dan kuletakkan di buah dadaku, kugosok gosokkan, barulah dia mulai merespon dengan remasan halus tanpa berhenti mengocok Lisa, lalu kucium bibirnya, tanpa kuduga dia langsung memegang kepalaku dan diciumnya bibirku dengan penuh gairah, full of passion, seperti orang melepas rindu berat, mungkin dari tadi Aan memang menginginkanku tapi tak berani.

Ciuman pada bibirku yang penuh nafsu tak menghentikan kocokan pada Lisa, lalu turun ke leherku sebagai sasaran selanjutnya dan berhenti di kedua putingku.
dengan penuh nafsu dan dengan liarnya dia mengulum, menjilat, menyedot dan meremas remas puting dan buah dadaku. Ouuhh aku menggeliat dalam kenikmatan yang indah.

Konsentrasiku terganggu ketika kudengar teriakan dari Lisa yang sedang mencapai kenikmatatan tertinggi, dia mengalami orgasme dengan hebatnya, terlihat badannya bergetar hebat dan kepalanya digoyang goyangkan seperti orang yang kesetanan, beberapa detik kemudian badannya melemas di atas kursi dengan napas terputus putus.

Bersamaan dengan ditariknya kemaluan dari kemaluan Lisa, dia mendorong badanku ke bawah lalu disodorkannya kemaluan besar itu ke wajahku, agak ragu sejenak tapi kemudian tanpa membuang waktu lebih lama kukulum juga kemaluan anak buah kepercayaanku itu, seperti dugaanku ternyata aku tak mampu mengulum kemaluan itu semuanya, lalu kukocok pelan, aroma dari kemaluan Lisa tercium olehku tapi tak kupedulikan, Aan memegang kepalaku dan mengocokkan kemaluannya di mulutku dengan liar, hampir aku tak bisa bernafas.

Lisa sudah duduk di antara Pak Budi dan Pak Putu, kemudian Aan memintaku duduk di kursi, dipegangnya kedua kakiku dan dipentangkannya, kuraih kemaluan besar yang dari tadi kuimpikan, kusapukan di bibir kemaluanku dan kuarahkan masuk, ternyata Aan tak mau terlalu lama bermain main di luar, dengan keras di sodoknya kemaluan besar itu masuk ke kemaluanku.

“OOUUGGHHh” teriakku spontan lalu kututupi mulutku dengan tangan sambil melotot ke arahnya.

Kemaluanku terasa penuh hingga aku tak berani menggerakkan badanku, tapi Aan seperti tak peduli, langsung mengocokku dengan cepat dan keras, kurasakan kemaluannya menggesek seluruh dinding dan mengisi semua rongga di kemaluanku, begitu nikmat hingga seakan aku melayang layang dalam kenikmatan birahi yang tinggi. Kakiku kujepitkan di pinggangnya, kedua tangannya meremas dengan keras kedua buah dadaku dan memilin ringan putingku sambil mencium bibirku dengan ganasnya.

Begitu liar dan ganas dia mencumbuku seakan menumpahkan segala dendam yang lama tesimpan, kocokannya yang keras seakan mengaduk aduk kemaluanku. Kulawan gerakannya dengan menggerakkan pinggulku secara acak, dan aku mendapatkan kenikmatan yang bertambah.

Entah sudah berapa lama kami bercinta di kursi hingga dia memintaku untuk rebah di karpet lantai ruangan, lalu segera dia menyebadaniku, badan atletisnya menindih badanku sambil pantatnya turun naik mengocok kemaluanku, ciumannya sudah menjelajah ke seluruh wajah dan leherku tanpa sedikitpun bagian yang terlewatkan.

Aku mengagumi kekuatan fisik Aan yang begitu kuat, dinginnya AC tak mampu mencegah peluh kami sudah bertetesan di seluruh badan. Kuraih kenikmatan demi kenikmatan dari setiap gerakan Aan di atas badanku.

Selanjutnya kami bergulingan, kini Aan telentang dan aku duduk di atasnya, secepatnya kugoyangkan pantatku mengocok kemaluan Aan, goyanganku kubuat tak aturan dan banyak variasi hingga dia menggigit bibirnya, dipandanginya wajahku, lalu dia kembali meremas buah dadaku dengan kerasnya, tanpa kusadari ternyata Pak Putu sudah berdiri di sampingku dan menyodorkan kemaluannya ke mulutku, kugapai dan langsung kukulum dengan gairahnya sambil tetap menggoyang pantatku. Pak Putu ternyata tak mau diam saja, dia ikut mengocokkan kemaluannya di mulutku sambil memegangi kepalaku. Tak mau kalah Aan kemudian ikutan menggoyangkan pinggulnya hingga kami seolah berpacu meraih kenikmatan birahi.

Aan lalu duduk hingga badanku berhadapan dalam pangkuannya, kujepitkan kakiku di pinggangnya sambil tetap menggoyangkan pantat tanpa melepas kocokan mulutku pada kemaluan Pak Putu, Aan menjilati seluruh leher dan dadaku, disedotnya putingku dengan keras, kurasakan gigitan gigitan kecil di sekitar buah dada dan putingku tapi tak kuperhatikan.

Akhirnya kurasakan badan Aan menegang dan sedetik kemudian kurasakan kepala kemaluannya membesar memenuhi rongga dalam kemaluanku lalu menyemprotkan spermanya, sementara gigitan dan sedotan di dadaku terasa semakin kuat, denyutannya membuat aku terbang melayang tinggi hingga ke puncak kenikmatan, maka akupun orgasme saat kemaluan Aan sedang berdenyut dengan hebatnya di kemaluanku, kami sama sama menggapai orgasme dalam waktu yang relatif bersamaan, badanku sudah mulai melemas tapi kemaluan Pak Putu masih di tanganku, maka kukeluarkan kemampuanku untuk segera mengakhiri kemauan Pak Putu sambil masih tetap duduk di atas Aan, tangan Aan masih meremas dengan lembut kedua buah dadaku, tapi konsentrasiku hanya tertuju ke Pak Putu, tak lama kemudian berdenyutlah kemaluan Pak Putu di mulutku, tak kurasakan cairan sperma keluar dari kemaluan itu, hanya denyutan denyutan ringan hingga melemas dengan sendirinya.

Aku terkulai lemas di atas badan Aan, anak buahku itu, dan dia membalas dengan ciuman dan elusan di punggung telanjangku, beberapa saat kemudia aku tersadar dan berdiri menjauhinya, duduk kembali di kursi.

Lisa memberikan teh hangat, kami semua masih telanjang, masih kurasakan seakan kemaluan Aan masih mengganjal kemaluanku.

Baru aku sadari ternyata ada empat titik memerah bekas gigitan Aan pada dada dan sekitar buah dadaku, kulirik Aan tapi dia tak memperhatikan.

Jarum jam menunjukkan pukul 13:30, ketika kami menandatangani kontrak itu dalam keadaan telanjang, sambl memangkuku Pak Putu menandatangani lembaran itu dan di atas pangkuan Pak Putu pula aku menandatanganinya. Sementara Pak Budi sebagai saksi, ikut menandatangani kontrak itu sambil memangku Lisa yang masih telanjang.

“Alangkah asiknya kalau kita bisa makan siang bersama sambil telanjang” usul Pak Budi
Aku hanya tersenyum menanggapi usulan nakal Pak Budi, kukenakan kembali pakaianku meski tanpa celana dalam karena diminta Pak Budi yang masih bujangan itu.

Tak lama kemudian kami semua sudah berpakaian lengkap, kubereskan dokumen yang berserakan di lantai maupun meja dan kuberikan semuanya ke Aan.
Dan selesailah official meeting hari ini.

Sebenarnya aku tak mau mencampur adukkan antara bisnis dan kesenangan seperti ini, baru pertama kali terjadi. Awal bisnis yang di awali seperti ini terus terang membuat aku takut, tapi apa bedanya dengan para bisnisman lainnya yang memberikan wanita cantik untuk dapat mendapatkan proyek, toh proyek itu jalan juga.

Setelah makan siang, aku dan Aan mengantar mereka hingga ke lobby dan disanalah kami berpisah, Aku dan Aan naik ke atas, tak ada pembicaraan sepanjang jalan ke kamar meskipun di lift Cuma kami berdua, suasana menjadi kaku, hal seperti inilah yang tak aku inginkan.

“Aan apapun yang telah terjadi adalah tak pernah terjadi, tolong camkan itu demi kebaikan kita semua” kataku pada Aan sambil mengecup bibirnya, sebelum dia masuk kamarnya.

Dan kami kembali ke Jakarta sebagai mana tak terjadi sesuatu kecuali kenangan indah.
Aku tak pernah bisa memenuhi kata kataku sendiri seperti yang aku pesan di atas, karena bercinta dengan Aan terlalu nikmat untuk di tinggalkan.



Cerita Seks terbaru, cerita dewasa bergambar, cerita mesum Indonesia, Cerita Dewasa terbaru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar